Skip to main content

Posts

Di Balik Secangkir Kopi

Source: The Telegraph Kopi, Expresso , Mochaccino , Capuccino , Frapuccino , Vanilla Latte , Kopi Arabika, sampai Kopi Tubruk. Masih ada sederet lagi jenis-jenis kopi yang terdengar lezat di telinga Anda, dan tentunya tak kalah nikmat rasanya. Saat ini, minuman kopi bukanlah minuman yang hanya identik dengan kaum lelaki, khususnya ‘bapak-bapak yang duduk santai di sore hari sambil baca koran’. Saat ini, kopi digemari hampir setiap orang dari berbagai kalangan. Kopi dapat dinikmati sebagai teman di kala belajar atau bekerja semalam suntuk, sebagai teman roti bakar di pagi hari, dan juga dalam pergaulan. Maraknya kedai-kedai kopi franchise luar negeri di kota-kota besar di Indonesia , semakin mempermudah orang mencicipi lezatnya kopi dengan bermacam-macam racikan dan penyajian. Nah, jika Anda termasuk salah satu ‘coffee-holic’ – atau penikmat kopi – ada baiknya goreskan sebuah pertanyaan dalam benak: Sebenarnya, apa saja yang terkandung dalam secangkir kopi yang nikm...

Perempuan dan Rokok, Boleh?

Dewasa ini merokok nampaknya menjadi suatu kegiatan yang sangat lazim ditemui di berbagai tempat, seperti di restoran, pusat perbelanjaan, kantor, bahkan sudah dengan mudahnya memasuki lingkungan kampus dan sekolah. Para pelakunya pun beragam, mulai dari apa yang dikategorikan sebagai orang dewasa, maupun para pelajar dan mahasiswa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Rokok tersebut pada umumnya dijadikan sebagai alat pergaulan, pelepas stress, bahkan ada yang menjadikan rokok sebagai suatu kebutuhan. Di balik semua itu, tahukah Anda bahwa rokok memiliki daftar kerugian yang lebih panjang daripada keuntungannya? Di Amerika Serikat misalnya, rokok merupakan penyebab kematian yang utama karena sangat dekat hubungannya dengan penyakit jantung, stroke, serta berbagai jenis kanker, seperti paru, mulut, perut, pankreas, dan sebagainya. Belum lagi melihat data kesehatan bahwa perokok memiliki resiko terserang infeksi saluran pernafasan bagian atas dan katarak lebih besar daripada bukan...

Menyusuri Awal Mula Uang di De Javasche Bank

Masih seputar staycation saya dan keluarga di kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta. Usai berpeluh seharian menjelajahi misteri yang ada di Museum Sejarah dan berpelesir di Taman Fatahillah, kaki ini rasanya mau remuk dan tak kuat berjalan selangkah lagi. Untunglah ayahnya anak-anak sudah mempersiapkan rencana perjalanan yang meski masih di dalam kota, akan tetapi tetap nyaman. Maka beristirahatlah dulu kami di salah satu hotel terkemuka di sekitar kawasan tersebut. Petualangan menjelajah Batavia masa lalu kemudian kami lanjutkan keesokan harinya ketika badan telah bugar dan kaki kembali siap melangkah. Agar perut tak keroncongan, sebelum bergabung bersama para penumpang di jalur busway , kami mengisi perut dahulu. Banyak pilihan kuliner yang nikmat di kawasan Kota, akan tetapi saat itu anak-anak agak membujuk kami untuk makan fast food dan ayahnya pun memilih sebuah restoran favoritnya di masa lalu yang menjual makanan khas negeri Paman Sam. Petualangan kemudian kami mulai...

Staycation di Sudut Masa Lalu Jakarta

Liburan tak melulu berarti berburu tiket – entah itu pesawat terbang, kapal laut, bus, atau kereta api, berpindah kota atau pulau, maupun menambah stempel di lembaran paspor. Bagaimana jika waktu liburan tak cukup, sumber dana tak memungkinkan, atau ada beragam urusan yang menyebabkan kita tak bisa jauh-jauh dari tempat tinggal? Apakah berarti liburan bakal berakhir membosankan? Tentu saja tidak! Setelah tahun lalu berpetualang a la road trip ke Yogyakarta dan enam bulan lalu berpelesir naik kereta api tut tut tut ke Surabaya, maka liburan kali ini kami memutuskan untuk menghabiskan liburan tak jauh dari tempat tinggal kami: Jakarta. Saya sempat membaca postingan Instagram dari sebuah radio swasta di Jakarta mengenai konsep liburan yang tak meninggalkan kota tempat tinggal, yang rupanya populer dengan istilah staycation. Maksudnya adalah vacation tapi tetap stay di wilayah tempatnya bermukim. Nah, berhubung saya tinggal di Bekasi yang hanya sepelemparan batu dari ibuk...

Fitra Eri: Kuasai Safety Driving Dulu, Baru Punya SIM!

Memiliki SIM alias Surat Izin Mengemudi merupakan syarat mutlak bagi seorang pengendara di Indonesia. Namun ternyata berbekal SIM saja tak menjamin pengendara tersebut dapat mengemudi secara aman dan siap menghadapi segala kondisi. image by ehstoday.com Setidaknya hal itulah yang diyakini oleh Fitra Eri, pebalap sekaligus jurnalis otomotif kenamaan Tanah Air saat dimintai pendapatnya soal konsep safety driving. “Orang yang memiliki SIM belum tentu bisa mengemudi secara aman. SIM kan hanya menunjukkan bahwa seseorang diizinkan secara legal untuk mengemudi di jalan raya, tetapi apakah berarti orang itu sudah paham seluk-beluk safety driving? Belum tentu. Padahal justru itulah yang penting,” ujar Fitra Eri ketika dihubungi lewat telepon, hari Senin (11/6) lalu. Pasalnya, tata cara perolehan SIM di Indonesia memang lebih banyak dititikberatkan pada teknik pengoperasian mobil dan memahami rambu-rambu lalu lintas yang akan ditemui selama berkendara. Tak ada mat...

Tiga Terlambat dan Empat Terlalu: Peringatan Dini Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

image by jpp.go.id Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari bahwa angka kematian ibu dan bayi di Indonesia tergolong tinggi, bahkan dapat dikatakan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan Indeks Pembangunan Manusia yang dilakukan oleh UNDP, tahun 2003 kondisi kesehatan Indonesia berada di peringkat 112 dari 175 negara. Ironis memang, apalagi jika kita mengetahui bahwa peringkat tersebut berada di belakang Vietnam, negara yang memperoleh kemerdekaan jauh setelah Indonesia. Kondisi kesehatan Indonesia yang sedemikian rupa ini tentunya berpengaruh pada angka kematian ibu dan bayi. Tingginya angka ini tidak terlepas dari peran sektor-sektor kehidupan yang tidak merata di Indonesia, seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan kita simak bersama mengenai permasalahan yang satu itu. Bagaimana Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia? Di Indonesia, data kesehatan tahun 1997 menyatakan angka kematian bayi me...

Merindu Rona Pelangi Di Mataku

images: indowarta.com Suatu hari Tommy menunjukkan hasil pekerjaan mewarnainya kepada sang ibu. Di atas kertas yang tadinya putih bersih itu terdapat gambar pepohonan, bunga-bunga, gunung, dan juga awan. Semua terlihat biasa saja sebagaimana hasil karya anak TK pada umumnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran sang ibu. Bukannya warna hijau yang digunakan Tommy untuk mewarnai pohon dan daun, melainkan warna merah. Sementara untuk warna langit yang semestinya biru, Tommy malah mewarnainya dengan kuning terang. Sebuah bentuk kreativitas? Rasanya tidak untuk anak seusia itu. Akhirnya sang ibu memutuskan untuk berkonsultasi kepada seorang dokter mata. Setelah diperiksa lebih lanjut, Tommy pun kemudian divonis menderita buta warna sebagian. Artinya, warna-warna yang semestinya terlihat di mata normal, akan terlihat sebagai warna yang berbeda di mata Tommy. Pada awalnya, sang ibu pun sempat kaget dan khawatir, namun setelah dokter memberikan penjelasan, sang ibu pun men...