Skip to main content

Posts

Showing posts with the label social studies

Menyoroti Film sebagai Variasi Media Pembelajaran Materi Kebebasan Pers Pendidikan Kewarganegaraan di SMA

Di era kemajuan teknologi informasi, tak sedikit guru meningkatkan kreativitasnya dalam memilih media pembelajaran. Berbagai alternatif media pembelajaran pun dipilih guna meningkatkan pemahaman para siswa terhadap materi yang diajarkan, baik itu media visual, media audio, maupun media audio visual. Salah satu media pembelajaran audio visual yang menjadi pilihan adalah film. Melalui film, guru menyajikan tidak hanya gambar atau contoh-contoh sikap yang dapat dilihat oleh para siswa, melainkan lengkap juga dengan suara berisi informasi yang dapat ditangkap oleh para siswa secara auditori. Ketika indera penglihatan dan pendengaran para siswa bekerja, diharapkan pesan dalam film pun dapat meresap secara kognitif, psikomotor, maupun afektif. Film pun kemudian menjadi alternatif bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar. Mulai dari film yang memang dibuat khusus untuk kegiatan belajar mengajar, film dokumenter, hingga film feature garapan sutradara ternama dari Hollywood. ...

Soal LGBT?

Gotta share before I go to bed... Jauh sebelum isu LGBT marak seperti saat ini, aktris Hilary Swank sudah mampu menerjemahkan alam pikiran seorang lesbian transgender yang pernah hidup di era 1990an, Teena Brandon, lewat film Boys Don't Cry. Brandon, demikian ia lebih senang disapa, benar-benar berusaha bertransformasi menjadi lelaki. Potongan rambutnya, gaya berpakaiannya, hingga pakaian dalam yang kesemuanya khas lelaki. Ia bahkan membebat payudaranya dengan kain dan menyumpal kaos kaki di celana dalamnya agar dari luar nampak menonjol seperti penis. Tak hanya itu, Brandon menunjukkan orientasi seksualnya dengan benar-benar mengejar dan berpacaran dengan perempuan tulen. Dan kisah cintanya selalu berakhir fatal setelah ketahuan bahwa ia sejatinya adalah perempuan. Dalam pencarian jati dirinya, Brandon kemudian jatuh cinta pada Lana, seorang gadis yang gaya hidupnya kerap bermasalah. Mereka menjalin hubungan hingga akhirnya teman-teman Lana yang mantan narapidana mengetahu...

Sarjana Sosial Untuk Sosiologi

Ada hal yang mengganggu pikiran saya menjelang tahun ajaran baru 2012/2013 ini. Biar pun sudah saya coba terima dan tepis prasangka buruk jauh-jauh, tetap saja mengusik benak saya. Mungkin bagi orang lain - apalagi yang sudah terlalu lama berkecimpung di dunia pendidikan - hal yang saya risaukan ini adalah hal biasa. Hanya masalah jam mengajar, pembagian guru, pengaturan jadwal, dan segala perintilan lainnya. Akan tetapi bagi saya, ini adalah sebuah hal yang ironis. Akhir tahun ajaran lalu, wakil kepala sekolah bidang kurikulum mengumumkan jadwal mengajar untuk tahun ajaran depan, atau istilah kerennya saat ini adalah teacher load . Seperti biasa, pelajaran yang menjadi langganan tetap saya sejak dua tahun lalu adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Di sekolah nasional plus menjurus internasional, mereka menyebutnya Civics Sungguh saya tak keberatan mengajar Civics. Meski benci politik, akan tetapi setidaknya saya pernah mempelajarinya di tahun pertama perkuliahan. Jadi bukan sesuatu...

Menelisik Pesona Tari Saman

Belasan pasang tangan bertepuk saling bersahut-sahutan. Ratusan jemari nan lentik dijentikkan ke udara, menambah semarak suara yang telah menggema. Ditambah lengkingan khas para gadis belia yang terselip di sela-sela pergantian gerakan. Semua pun melagukan pujian atas kuasa Illahi. Demikianlah sebuah tarian bernama Saman mampu memesona para penikmatnya. Tarian asal Serambi Mekah ini memang kerap mengundang decak kagum, mengingat gerakan yang dilakukan tidaklah mudah. Padahal, tarian yang tengah saya nikmati ini hanya berupa sesi latihan dari murid-murid saya yang tergabung dalam ekstrakurikuler tari Saman. Tanpa make-up, tanpa kostum warna-warni. Tari Saman memang telah dikenal di mata dunia sebagai salah satu tarian terindah dan tersulit untuk dilakukan. Pasalnya, tuntutan disiplin dan koordinasi gerak antara para penari sangatlah tinggi. Semua harus dilakukan dengan dinamis, harmonis, dan beriringan di antara belasan penarinya. Satu saja gerakan salah, maka rusak pula keindahan...

Melebur Stereotipe dan Prasangka di Sekolah

Suatu sore selepas jam pulang sekolah, blackberry messenger saya berdenting. Sebuah pesan yang tidak singkat datang dari salah satu anak didik saya. “Miss, masa tadi siang ada guru yang tiba-tiba tanpa alasan jelas, berkata di depan kelas bahwa anak-anak IPS adalah anak-anak yang pemalas. Saat saya protes, guru itu tetap ngotot pada pendiriannya. Menurutnya, anak-anak IPA lebih pintar dan rajin,” kata anak tadi dalam pesannya. Di belakang pesan tersebut, ia selipkan emoticon yang menampilkan wajah marah dan menangis. Kelihatannya ia kesal. Wajar jika murid saya itu menyatakan keberatan. Ia sendiri adalah murid yang duduk di kelas IPS dan merasa bahwa selama ini berkelakuan cukup baik. Nyaris tidak pernah lalai mengerjakan tugas, hormat pada guru, dan nilai-nilainya pun tak pernah merah. Sepanjang pengalaman saya mengajar anak itu dua tahun belakangan, ia memang tak pernah bermasalah. Ia bahkan termasuk salah satu anak yang menonjol dalam pelajaran bahasa Inggris. Kerap dikirim s...