Skip to main content

Posts

Showing posts with the label demits

Au Revoir, Batch 10!

Prom Night with Dede, Ndut, Sendy, Acel, dan Abang. Sepanjang tujuh tahun mengajar di SMA Global Prestasi, baru tahun ini saya menyempatkan diri datang ke acara perpisahan mereka, yang populer disebut dengan istilah Prom Night! Yes, prom night a la remaja Amerika Serikat, lengkap dengan prom dress, prom date, serta penobatan prom king and queen. Bedanya, prom night yang saya hadiri ini minus dansa, baik itu slow dance maupun moshing yang biasa dilakukan saat sebuah band tampil. Eh, tapi entah ya pas after party... Sebenarnya alasan saya datang ke prom night tahun ini sederhana saja, sejak beberapa hari sebelum acara, panitia menghubungi saya agar memberikan sepatah dua patah kata alias speech mewakili guru-guru di hadapan mereka. Itu, plus fakta bahwa wakil ketua panitia prom night adalah anak saya sendiri, maka saya memutuskan untuk datang. Jadilah saya setelah menghabiskan sepanjang sore untuk berpakaian dan berdandan di rumah, menyetir sendiri ke Hotel Borobudur Jakarta...

Dia Lagi, Dia Lagi, Dia Melulu!

Ga bisa tidur, mau nulis cerita aja deh... Seperti biasa pagi tadi upacara bendera. Dan seperti biasa pula tu anak kesayangan satu telat. Jadinya baris di luar gerbang. Nyaris dipulangin sama pasukan saya yang baru hehehehe... Entah kenapa, hari saya memang terasa belum lengkap kalo belum bawelin atau ngomelin dia. Dan sepertinya hari dia juga ga berwarna kalo belum ngebantah dan nahan kesel sama saya. Hahaha gitu deh kalo anak sayang banget sama emaknya ya, mau marah juga ga bisa. Akhirnya cuma bisa nahan emosi. Jengkel! Tadi pagi tema perseteruan kami adalah soal celana. Menurut saya, udah dari zaman kelas 11 tu anak celananya ketat tapi ga diganti juga. Padahal tau sendiri dong saya kalo udah bawel kayak apa. Menurut dia, celananya gede. He eh, iya deh gede sampai-sampai buat jongkok ga bisa. Hmmm... Seperti biasa dia ngebantah. Alesannya banyak. Ngibulnya juga lebih banyak lagi. Di depan semua orang dia ngebantah. "Mama batu banget sih kalo dibilangin!" (Lah, y...

Never Say Good Bye, Demits!

Bagaimana menceritakan mereka semua dalam satu tulisan? Bahkan berpuluh-puluh tulisan pun rasanya tidak akan cukup. Terlalu banyak rasa dengan mereka. Terlalu banyak kisah. Terlalu banyak emosi. Kami melewati semuanya bersama-sama. Segala peristiwa menjengkelkan yang kini menyisakan tawa bagi mereka, namun tetap getir buat saya. Tidak habis pikir betapa semua peristiwa itu bagi mereka nampak bagaikan kemenangan. Mulai dari yang biasa dilakukan juga oleh kelas lain, seperti cabut pelajaran, bertengkar dengan guru, nyaris baku hantam dengan sesama teman, main kartu di jam pelajaran, nilai raport kebakaran yang mengancam tidak naik kelas. Ah, sudah biasa! Hingga hal-hal ajaib yang membuat saya pusing tujuh keliling. Peristiwa pembobolan lemari ping-pong di Yayasan, e-mail ancaman buat guru, melecehkan kode peluit pramuka yang berujung tangisan dan teriakan akibat uji nyali, atau yang paling terbaru, melayangnya gelas kaca dari lantai 3 yang membuat marah para penghuni lantai 1. ...

Si Ndut

Sulit sekali menyayangi kamu, anak saya satu... Ketika pertama kali bertemu, kamu hanya satu dari segelintir anak kelas 10 Business angkatan 10 yang kebetulan saya ajar. Jika saja Tuhan menggariskan kamu berada di kelas sebelah, maka mungkin saya tidak akan pernah mengenalmu sama sekali. Perhatian saya padamu pertama kali terjadi saat Life Skill di Yogyakarta. Masih ingatkah kamu peristiwa menyebalkan itu? Ah, pasti kamu akan menyangkal mati-matian dan menuturkan versimu sendiri! Saya tidak akan pernah lupa, malam itu kamu “menjual” nama saya ke hadapan guru dan kepala sekolah, bahwa saya mengetahui persis dan cenderung melindungi kamu yang tertangkap basah membawa rokok. Ide dari mana pula kamu menyebut nama saya saat itu? Hasilnya jelas, saya dimarahi habis-habisan oleh kepala sekolah sebelum akhirnya sempat mengklarifikasi dan menjernihkan keadaan. Gara-gara kamu! Sejak melihatmu dipulangkan malam itu, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak akan pernah men...

Ceritaku Hari Ini

Ceritaku hari ini... Ndut yang gamau nurut, Dede yang pemalu, dan Abang yang manis banget pakai helm. Diawali pagi hari, tiga anakku si kakak beradik telat datang, jadi disuruh Mam Atik matiin mesin motor dan nenteng motornya ke parkiran. Bedanya, si Ndut yang juga anggota demits tetap batu gamau turun dan nyalain mesin motornya. Acel yang paginya ga buat masalah, siangnya malah mecahin baskom dan main kartu. Lalu saat cooking class, demits main-main pakai kulit melon yang bikin Miss Sari marah. Ga kapok dimarahi, sekarang giliran main-main pakai batu untuk mecahin es. Alhasil, satu baskom pecah jadi korban. Belum cukup itu saja. Di jam terakhir, 4 demits tertangkap basah main kartu di ruang art dan tidur-tiduran di atas meja. Hadiahnya tentu saja teguran tertulis dan mereka pun disuruh membuat surat pernyataan. Kalo rapat guru berikutnya masih ada yang nanya sayang ga saya sama anak-anak ini... Saya jawab SAYANG BANGET! *sigh*

Pura-Pura PE

I'm sorry but this is so hilarious, I gotta tell the whole world... Alkisah tiga demits melipir ke GPS Mart usai kelas English Conversation. Di tengah perjalanan mereka pun bertemu dua guru dan mulai cari-cari alasan mengapa mereka tengah berada di luar, bukannya di kelas. Dua demits sepertinya malas berpikir, jadi mereka memilih lari. Tinggallah satu demits yang percaya diri tetap berada di lapangan dan berpapasan dengan dua guru tersebut. Guru: "Kamu ngapain di luar sini? Bukannya di kelas!" Demits: "Saya lagi pelajaran PE, Miss. Tapi ga bawa baju. Hehehe.." *sambil menunjuk ke lapangan yang dipenuhi kelas X3 yang memang sedang PE* Guru: *ketawa aja lihat aksi bohongnya si demits yg gagal. Soalnya dia homeroom X3* Demits: *kabur setelah menyadari kekonyolannya* Hikmah dari kisah ini adalah: kalo mau bohong ya mikir dulu, Nak. Jangan fatal-fatal amat giniiiii... Subhanallah saya gemes ga ketulungan sama ni anak! Kalian tentu tahu dong siapa demit...

Memaknai Film Freedom Writers Bersama Demits Kesayangan

I got another hilarious story to tell the whole world... Hari ini saya ngajak Demits nonton film keren berjudul Freedom Writers. Awalnya sih mereka nyepelein, maunya nonton Ju On yang katanya seru itu. Namun setelah opening creditnya menghentak dengan lagu hip-hop, mata mereka langsung tertuju pada layar. Maklum, film produksi MTV ini emang dikemas biar lekat sama remaja. Settingnya aja high school. Singkatnya, Freedom Writers menuturkan pergulatan seorang guru perempuan menghadapi kelasnya yang selalu chaos karena sentimen antarras. Ada kelompok African-American alias Nigga, kelompok Little Cambodia, kelompok Latinos, dan satu orang kulit putih. Guru itu sendiri berasal dari ras kulit putih. Selanjutnya bisa ditebak kalau segala kekacauan yang ga main-main ini pada akhirnya bisa diredam dan kelasnya jadi menyatu layaknya keluarga. Memang tidak gampang, karena sentimen ras itu tak jarang menyebabkan orang-orang terbunuh. Bayangkan, bagaimana seorang guru pemula menghadapi semua ...

Demits: Bocah-Bocah Tengil Kesayangan

Love can happen in desperation... Rasa sayang memang bisa tumbuh melalui berbagai cara, beragam bentuk, dan beraneka cerita. Mulai dari seorang anak yang sakit saat tengah mengikuti kegiatan sekolah, kemarahan saat pembagian workbook di kelas, hingga raut wajah kecewa di pinggir lapangan futsal usai mengalami kekalahan. Bahkan dalam titik rendah kehidupan seseorang pun, rasa sayang bisa muncul seketika tanpa mengenal logika. Dan dengan mereka, saya harap semua ini belum terlambat... Saya pertama kali harus bersentuhan dengan mereka saat mereka duduk di kelas 11. Memang sebagian dari mereka telah saya ajar ketika kelas 10, namun perumpamaan yang tepat kala itu adalah mereka sekedar “numpang lewat” dalam hidup saya. Siapa sangka jika kemudian jalan hidup berkata lain? Pada hari itu, saya menerima mereka semua menjadi tanggung jawab saya selama satu tahun penuh. Mereka bersembilan belas. Saya belum menggunakan kata “anak” untuk menyebut mereka saat itu. Entah mengapa, ka...

Mama

Untuk kalian yang senang memanggil saya, Mama... Saya tidak ingat kapan persisnya ini bermula, yang jelas saat kalian masih duduk di kelas 10. Masih bayi. Masih kecil. Masih tersisa raut wajah bocah SMP dan tekad untuk menjadi penguasa kala SMA. Saya juga tidak ingat, kebaikan apa yang sebenarnya telah saya berikan kepada kalian saat itu. Saya hanyalah guru yang sekedar "numpang lewat" untuk mengajar Sosiologi dua jam setiap minggunya di hari Jumat pagi. Sisanya, kalian lebih banyak berinteraksi dengan homeroom kalian saat itu, Pak Suryono dan Miss Martha. Saya juga - jujur saja - tidak terlalu peduli dengan keberadaan kalian karena memang intensitas waktu yang saya habiskan lebih banyak dengan kakak-kakak kelas kalian. Jadi saya tidak heran jika Peter, Tristan, dan Jesline memanggil saya Mama. Atau Fadhiil yang memanggil saya Mami. Begitu juga dengan Komang dan Ado yang memanggil saya Ibu. Keseharian saya dipenuhi oleh mereka, bukan kalian. Makanya, saya tak pernah...