Skip to main content

Posts

Showing posts with the label chibis

Tentangmu, Untukmu, Selalu...

Untukmu, yang selalu senang membaca tulisan saya... Kamu dan sahabat karibmu itu selalu antusias setiap saya mulai menulis. Terutama jika kata-kata yang mengalir dari benak saya berkisah tentang kalian berdua. Tidak terasa kini sudah tiga tahun saya menulis kisahmu. Entah sudah berapa kali kamu tertawa, terharu, atau mungkin merasa kesal saat membaca tulisan-tulisan saya tentangmu. Masih ingatkah kamu, sekira tiga tahun lalu, saya memberikan lembaran-lembaran kertas kepada sahabatmu? Saat itu saya berkata kepadanya, "jangan berikan kertas ini pada dia. Kamu baca saja dulu, lalu beritahu saya apa tulisan ini pantas ia baca." Namun yang namanya sahabatmu, pasti akan selalu setia kepadamu. Dalam sekejap, tulisan saya sudah kamu baca. Kemudian saya dengar darinya, kamu terharu. Menangis, atau hampir menangis, saya tidak dapat mengingat dengan pasti. Itulah kali pertama saya menulis tentangmu, untukmu... Sejak saat itu, kisah tentangmu dan sahabatmu terus bergulir lewa...

Kangen

Apa yang ada di dalam pikiranmu saat mendengar kata kangen? Kalau saya, sederhana saja. Kata ini mengingatkan saya pada judul lagu yang mengantarkan grup band kesohor Dewa 19 meniti tangga popularitas di dunia musik Tanah Air. Namun saya tak akan berbicara panjang lebar soal Kangen versi lagu. Saya bukan musisi. Bukan pula pakar atau pengamat musik yang pantas untuk menganalisa lagu tersebut. Kata kangen terlintas dalam pikiran saya sejak akhir pekan lalu. Saat bercengkerama dengan beberapa anak murid perempuan saya – Andrea, Saskia, Icha, dan Cathalin. Kala itu kami tengah makan siang bersama di kantin sekolah. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Hingga tanpa sengaja dan entah bagaimana awal mulanya, kami membicarakan hari pertama di kelas 1E. Saat masing-masing dari kami belum mengenal satu sama lain. “Kayaknya nggak ada kelas yang sekompak itu lagi deh,” ucap salah satu dari mereka. Saya lupa siapa, tetapi saya ingat kemudian Andrea menimpalinya. “Inget nggak pas har...

Mari Menulis Kembali!

Wall facebook saya berdebu. Twitter saya berdebu. Blog saya pun berdebu. Satu-satunya yang ramai penuh hiasan adalah path saya, yang nyaris tiap jam berisikan informasi lagu apa yang tengah saya nikmati, film apa yang sedang saya tonton, bahkan di lokasi mana saya sedang berada atau sedang apa. Hal-hal remeh. Entahlah, setahun belakangan ini hasrat menulis seolah enggan hinggap. Padahal sejak tahun pertama saya menjadi guru – sekira empat tahun silam – saya selalu menulis. Saat Kiddos memimpin upacara bendera yang super ajaib, saya menulis. Saat Mentari merasa sedih saat jurusan IPS dianggap sebagai kelas dua, saya menulis. Saat saya tidak diberikan jam pelajaran Sosiologi, saya menulis. Saat Willy bimbang menentukan jurusan dan cita-cita, saya menulis. Saat Karin dan Jesline tak kunjung menghapus cat kuku mereka selama berminggu-minggu, saya menulis. Hal terkecil sekali pun tentang dinamika kehidupan saya di sekolah, selalu mendorong saya untuk merangkai jalinan kata ...

Especially For You, Live Your Dreams!

Beberapa hari lalu, salah seorang murid di kelas saya berkicau di Twitter, “Especially for you.” Entah apa maksud murid saya itu, tetapi kicauannya tadi mengingatkan saya pada lagu duet Jason Donovan dan Kylie Minogue yang berjudul serupa. Lucu. Mungkin murid saya tadi bahkan tidak tahu lagu yang saya ingat itu, apalagi mengenal nama Jason Donovan dan Kylie Minogue. Kebanyakan hanya remaja yang tumbuh di era 1980an dan 1990an saja yang mengenal dua nama kesohor itu. Berbicara soal Especially For You, ada satu bait lirik yang paling saya suka dari lagu itu. Begini bunyinya: Especially for you I wanna tell you I was feeling that way too And if dreams were wings, you know I would have flown to you To be where you are No matter how far Now that I’m next to you Bait itu memang menuturkan cinta, mengenai sepasang insan yang sedang dimabuk cinta dan tak mau saling berjauhan. Lagi-lagi tak ada hubungannya dengan murid saya tadi. Namun kata dreams , alias mimpi, s...

Andai Rasa Itu Pergi

Saya berulang kali berkata pada diri saya hari ini, bahwa saya menyayangi anak-anak kelas saya. Benar-benar sayang. Garis bawahi kata sayang. Oh, saya tidak ingin jadi drama queen atau orang yang lebay – istilah anak-anak zaman sekarang. Saya hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa mereka, chibis, adalah anak-anak yang saya pedulikan saat saya berperan menjadi guru. Setidaknya, itulah yang saya rasakan di penghujung semester satu kemarin dan menjelang hari pertama semester kedua ini. Di penghujung semester satu, saya merasakan kegundahan yang cukup memakan ruang di hati ketika akan berpisah. Betapa tidak, saya tak sempat mengajar mereka pada semester itu. Beberapa anak belum saya akrabi, tak semua bisa saya rebut hatinya, beberapa anak belum percaya pada saya, dan beberapa yang lain meminta perhatian yang lebih dibandingkan yang lain. Lalu waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Menjelang hari pertama semester kedua, saya senang luar biasa. Tak sabar mengajar mereka. Sa...

A Sweet Way to End 1st Semester

Mencintai dan dicintai adalah perasaan yang paling indah di dunia. Berbekal cinta, ke mana kaki melangkah, kita akan selalu merasa aman dan nyaman. Tak perlu khawatir mengenai suatu apa pun. Akan tetapi, pernahkah kita merasa rasa cinta yang diberikan kepada kita mendadak hilang? Saya baru saja merasakannya beberapa minggu terakhir ini. Dan saya agak terkejut mengenai efek yang ditimbulkannya. Berawal dari masa remedial. Tuhan menganugerahi saya sepasukan anak yang “hobi” remedial. Kelas saya, kelas 1E, chibis yang tercinta ini harus mengikuti program remedial hampir di semua pelajaran. Tiap pelajaran tak tanggung-tanggung, lebih dari 10 anak dari total 26. Pusing saya dibuatnya. Beberapa anak laki-laki, yah sebut saja nama mereka Sandy, Peter, Bob, Ucup, dan Barry, bukan main sulitnya untuk disuruh remedial. Mereka harus diomeli, dipaksa, bahkan terkadang di ancam. Puncak kemurkaan saya adalah saat beberapa dari mereka terancam tidak lulus Sosiologi, Ekonomi, dan Ba...

Doa Semester Satu

Tuhan... Terima kasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Terima kasih atas kesehatan, rizki, dan kebaikan selama bulan-bulan pertama kami di bangku SMA. Dan tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu... Hari ini adalah hari terakhir kami sebagai satu kelas di semester 1. Hari terakhir yang ingin kami syukuri karena kami telah melalui begitu banyak peristiwa. Canda, tawa, duka, amarah, dan segala ketidakpastian. Semua tersimpan di relung hati kami yang terdalam dan mungkin sulit bagi kami untuk melupakannya kelak. Esok kami akan menghadapi ujian akhir semester 1. Sebuah penanda bahwa perjuangan kami di semester ini usai sudah. Tak boleh ada keraguan, atau pun penyesalan. Yang telah berlalu, biarlah berlalu. Kami siap menyambut apa yang ada di hadapan. Tuhan... Mungkin kami telah meminta terlalu banyak kepada-Mu. Namun izinkanlah kami meminta kembali dengan segala kerendahan hati. Izinkanlah kami melalui 7 hari ujian ke depan...