Skip to main content

Posts

Malaikat Tak Bersayap

What is a mother’s love to you? Do you feel a mother’s love? From whom do you feel a mother’s love? Beberapa minggu belakangan, benak saya dipenuhi oleh pertanyaan mengenai apa makna kehadiran ibu dalam kehidupan seseorang. Saya tumbuh di keluarga yang penuh kasih sayang, di mana peran ibu sangat besar. Saya sangat bersyukur karakter ibu sangat mempengaruhi hidup saya dalam artian yang positif. Saya tak pernah merasa kekurangan karena ibu selalu ada di samping saya. Bagi saya, ibu adalah malaikat. Malaikat tanpa sayap, mungkin. Dan saya tumbuh dengan asumsi bahwa semua orang tumbuh bahagia di samping ibunya seperti saya. Hingga saat akhirnya saya sendiri menjadi seorang ibu. Saya menemukan bahwa menjalani peran sebagai ibu tidaklah mudah. Ibu tak boleh sekali-sekali melepaskan pandangan dan hati dari anak-anaknya, walaupun keinginan dan tuntutan di sekelilingnya menghimpit. Saya kemudian mengambil keputusan, meninggalkan kehidupan pribadi yang cukup mapan demi lebih ...

Untuk Mereka yang Sedikit Terlupakan

Saat sebuah sistem terasa begitu membebani, tentulah kita akan mengupayakan seribu satu cara untuk lari darinya. Akan tetapi semakin kita mencoba lari, semakin erat pula sistem itu mengikat tangan dan kaki kita. Pada akhirnya, kesempatan untuk lari menjadi semakin sulit dan terasa mustahil. Dalam sistem rapuh di mana saya tengah berada, ada satu alasan yang membuat saya tak bisa lari darinya. Bukan uang, bukan jabatan, bukan pula popularitas. Alasan itu adalah mereka, para murid. Tak heran jika banyak dari mereka yang kini telah lulus masih saja heran melihat saya bertahan dalam sistem itu. Bukannya betah, melainkan tak sanggup meninggalkan. Sekira dua tahun lalu, saya telah memantapkan hati untuk menjadikan angkatan 8 sebagai angkatan terakhir yang tersimpan di dalam relung hati. Saya pun bertekad setelah melepas mereka menamatkan SMA, saya pun akan tinggal landas dari sistem yang semakin menjerat ini. Lulus bersama mereka. Maka sejak angkatan 9 hadir untuk pertama kaliny...

Semua Butuh Pelukan Sesekali

Empat tahun penuh saya belajar ilmu Antropologi di bangku perkuliahan. Saya belajar bahwa masyarakat dalam bentuk apa pun memiliki nilai-nilai luhur yang mempengaruhi perilaku mereka. Mengapa masyarakat A seperti ini dan mengapa masyarakat B seperti itu, semua dapat dijelaskan dengan gamblang melalui kebudayaan yang mereka miliki. Lalu, saya juga sering mendengar tentang masyarakat kita yang mengusung budaya timur. Namun yang saya tak pernah pahami seutuhnya, bagaimana kah wujud budaya timur itu sesungguhnya? Budaya yang didominasi nilai-nilai Islam? Budaya asli Indonesia yang diadopsi dari budaya suku bangsa tertentu? Atau apa? Hal yang saya telah pelajari selama ini, budaya suku bangsa di Indonesia berbeda-beda. Di Nanggroe Aceh Darussalam misalnya, nilai Islam begitu dijunjung tinggi sedari dulu.Sudah barang tentu para perempuan di sana diwajibkan berhijab. Akan tetapi di belahan timur Papua, masyarakat masih ada yang mengenakan koteka – nyaris tanpa pakaian konvensional se...

Morning Reflection: Selasa, 26 Agustus 2014

Suatu hari, salah seorang murid saya pernah bercerita. “Miss, cita-cita saya yang sesungguhnya adalah menjadi dokter,” katanya. Oh, to be a doctor is a very common dream. Everybody wants to be a doctor. Rata-rata beralasan karena nyari uangnya gampang, ekonominya bakal terjamin, dan hal lainnya yang tidak jauh-jauh dari masalah status sosial ekonomi di masyarakat. “Saya ingin menjadi dokter karena saya benar-benar ingin menolong orang yang tidak mampu. Saya kasihan lihat orang miskin mau berobat susah. Rumah sakit dan obat mahal semua,” katanya lagi. I felt so amazed. It feels like talking to an angel. Heaven on earth, I really couldn’t believe it. Maka sebagai guru yang baik, saya kemudian mendorongnya untuk masuk IPA saat penjurusan. Apalagi hasil psikotesnya juga menyatakan bahwa anak ini lebih bisa berkembang di jurusan IPA daripada di IPS. Masuk IPA, kemudian masuk Fakultas Kedokteran, dan benar-benar mengejar mimpinya menjadi dokter. Sesederhana itu. Namun ya...

For My Girls

Saya tidak memiliki anak perempuan. Mungkin belum, tapi rasanya saya tidak akan pernah merasakan anak perempuan dalam dekapan saya seumur hidup. Namun dunia saya tidaklah sepi. Dunia saya tetap diwarnai keceriaan anak-anak perempuan. Dikelilingi canda tawa mereka, lembutnya hati mereka, sakitnya patah hati, dan sensasi cinta pertama. Mereka itu adalah kalian. Murid-murid yang saya kenal sejak kelas 10, dan tinggal menanti hitungan hari untuk saya lepas di penghujung waktu. Masih ingat foto yang saya post di timeline beberapa saat lalu? Foto yang membuat kalian gempar. Kesal sekesal-kesalnya. Marah, sekaligus sedih. Kalian merasa, betapa pun kalian selalu ada untuk saya, tetapi hati saya bukan sepenuhnya milik kalian. Lima jejaka dalam foto turut kalian benci saat itu. Pikiran kalian salah besar. Kalian selalu ada di hati saya. Kalian lah orang-orang pertama tempat saya berbagi asa, berbagi pikiran, berbagi kebahagiaan, kesedihan, juga tangisan. Masih ingat di sebua...

(Bukan) Serigala Terakhir

Semua orang, mulai dari anak SD yang baru belajar kosa kata hingga guru seperti saya, tahu dengan jelas bahwa munafik bukanlah kata yang baik. Setidaknya, banyak orang yang menggunakan kata munafik untuk menunjukkan perbuatan yang tidak baik. “Hey, munafik banget sih lo jadi orang!” kata seseorang saat ia merasa temannya telah membohonginya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata munafik memiliki arti berpura-pura percaya atau setia kepada agama, tetapi sebenarnya dalam hati tidak. Selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya. Bermuka dua. Di dalam Al-Quran bahkan, kata munafik merujuk pada orang-orang yang mengaku beriman padahal mereka dalam hatinya kufur. Ciri-ciri orang munafik di antaranya adalah bermuka dua, berlidah dua, berdusta, dan sumpah palsu. Bayangkan, saya sampai membuka kitab suci demi mencari definisi kata yang satu ini. Kesimpulannya, munafik itu tidak baik. Lalu demi Tuhan, mengapa segerombolan anak lelaki yang tahun lalu tergabung...

My Kids Has Grown Up

Berbagai kejadian dalam kehidupan di sekolah sejauh ini membuat saya berpikir: I’ve seen my kids grown up. They became mature in their way of thinking. They became true to their friends. They know right and wrong. They became independent. I am so proud, yet I feel a bit lonely noticing that they don’t need me as much as before. Kata-kata ini memang ditujukan kepada semua mereka yang saya anggap anak-anak saya, yang merasa anak-anak saya, yang pernah menjadi anak-anak saya, dan yang akan ditakdirkan menjadi anak-anak saya. Semua, tanpa terkecuali. Kata-kata ini terlintas begitu saja dalam benak saya setelah suatu sore, seorang anak datang kepada saya dan berkata, “Miss, saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sudah tidak lagi memiliki teman di mana pun.” Hubungan saya dengan anak ini sebenarnya tidaklah terlalu akrab. Dari seluruh murid yang saya miliki saat ini, anak tersebut tak pernah identik sebagai anak saya. Tidak seperti Peter dan Willy yang hingga kini o...