Skip to main content

Rahasia dari Celah Pintu

An Open Door Milan Italy Painting by Anna Rose Bain
(source: www.fineartamerica.com)

Aku hanya bisa diam, tak mampu mencerna kata demi kata yang baru saja melintas di telingaku. Apa aku tak salah dengar? Apa perempuan itu tak salah ucap? Aku tahu ia tak pernah menyayangiku sejak seumur hidupku, namun haruskah aku memercayai setiap ucapannya?

Aku mundur beberapa langkah, bersembunyi di sudut ruangan agar mereka tak mampu melihatku dari celah pintu. Betapa pun dekatnya jarak kami saat ini, aku merasa ada sebuah jurang lebar di antara kami. Jurang yang memisahkan kehidupan mereka yang semestinya baik-baik saja tanpa gejolak, dengan kehidupanku yang selalu terlihat abu-abu.

Aku semakin tak mengenali diriku. Mereka yang menghiasi hari-hariku sejak saat aku dilahirkan ternyata bukanlah yang selama ini aku bayangkan. Darah yang mengalir dalam nadi mereka tak sama dengan darah yang mengalir dalam tubuhku.

Lantas, jika aku bukanlah bagian dari mereka, siapakah diriku yang sebenarnya? Mengapa aku berada di tempat ini?

Comments

Popular posts from this blog

The Best Glee Mash-Off

Just for fun, In my opinion, the best Glee mash-off by far is Adele's Rumor Has It/Someone Like You by the Troubletones (Santana and Mercedes). What do you think? Love, Miss Tya

Arya dan Puzzle

Puzzle 250 pieces yang berhasil diselesaikan Arya dengan tim penyemangat Wira dan Kinan Ini cerita tentang sulungku dan kecintaannya pada puzzle. Waktu masih balita, seingat saya masih sekitar usia dua tahun, saya dan ayahnya mencoba membelikan puzzle 6 pieces untuk ia selesaikan. Ia pun menyelesaikannya sendiri dengan mudah. Lalu kami mencoba menaikkan tantangan dengan puzzle 12 pieces di tahun berikutnya. Lagi-lagi, tak ada kesulitan sedikitpun baginya dalam menyusun kepingan demi kepingan sehingga mencipta gambar yang utuh. Mbah utinya kemudian membelikan ia oleh-oleh puzzle 24 pieces dari hasil melancongnya ke New York. Puzzle bagusan asli Amerika tentunya, terbuat dari kayu cokelat muda yang ringan dan ramah anak serta lingkungan. Sebenarnya masih bisa awet hingga kini jika saja kala itu rumah kami tidak kebanjiran dan menghanyutkan sebagian besar mainan yang dikumpulkan anak-anak. Saya lupa waktu itu Arya umur berapa. Sepertinya TK saja belum, atau mungkin baru...

The Boy Who Can’t Get Out of My Mind

Jika ada seseorang yang iseng bertanya, siapa kira-kira murid yang tidak akan pernah saya lupakan kelak? Mungkin jawaban saya adalah salah satu anak lelaki di kelas saya tahun lalu. Bukan berarti dia yang teristimewa di hati, karena tak pantas guru memilih-milih di antara murid-muridnya. Namun dia adalah kejutan pertama saya – murid ajaib slash bandel yang pertama kali saya miliki. Bayangkan di tahun pertama saya didaulat sebagai wali kelas, bocah pembuat onar itu harus hadir tepat di dalam kelas saya. Ah, seribu satu rasa! Tahun ini, ia bukan lagi tanggung jawab saya. Saya telah melepasnya untuk dibimbing oleh guru lain pada tingkat kelas yang lebih tinggi. Semoga dia dan guru itu bisa selamat tanpa kekurangan suatu apa pun hingga tahun ajaran ini berakhir. Semoga.  Kini saya punya murid-murid baru. Dan masih sama seperti tahun lalu, lagi-lagi didominasi oleh segerombolan lelaki yang ajaib. Mungkin sudah garis nasib saya seperti ini. Harus selalu berhadapan dengan...