Skip to main content

Untuk Jiwa yang Lelah

Hari ini aku ingin menghilang bersama angin. Larut dalam derasnya hujan. Melebur dengan buih-buih ombak di lautan. Jiwaku ingin merasa bebas. Lepas, tanpa beban. Aku tidak ingin merasakan apa-apa. Mati.

Bukan, bukan meregang nyawa seperti para pesakitan. Hidup ini terlalu indah untuk ditinggalkan. Aku masih ingin berada di dalamnya. Menikmati terpaan sinar mentari, terbuai lembutnya desiran angin, dan merasakan hangatnya tatapan matamu yang ditujukan untukku.

Namun jiwaku lelah. Ia terlalu lemah dalam pencarianku pada dirimu. Meski ragaku selalu bersamamu, akan tetapi jiwaku seolah tak mampu memahamimu. Bahkan di saat kita sudah mengenal layaknya selama seribu tahun seperti sekarang ini.

Aku telah memberikan duniaku kepadamu. Namun mengapa aku merasa kamu tak pernah merasa cukup? Mengapa kamu masih mengejar setiap jengkal dari dunia yang tidak kamu miliki?

Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Kamu selalu berkata seperti itu. Berusaha menenangkanku. Namun kini aku sudah teramat lelah. Tak ada hati yang mampu menahan rasa sakit yang teramat besar.

Biarkan saja aku menghilang bersama angin hari ini.


Comments

Popular posts from this blog

The Best Glee Mash-Off

Just for fun, In my opinion, the best Glee mash-off by far is Adele's Rumor Has It/Someone Like You by the Troubletones (Santana and Mercedes). What do you think? Love, Miss Tya

Arya dan Puzzle

Puzzle 250 pieces yang berhasil diselesaikan Arya dengan tim penyemangat Wira dan Kinan Ini cerita tentang sulungku dan kecintaannya pada puzzle. Waktu masih balita, seingat saya masih sekitar usia dua tahun, saya dan ayahnya mencoba membelikan puzzle 6 pieces untuk ia selesaikan. Ia pun menyelesaikannya sendiri dengan mudah. Lalu kami mencoba menaikkan tantangan dengan puzzle 12 pieces di tahun berikutnya. Lagi-lagi, tak ada kesulitan sedikitpun baginya dalam menyusun kepingan demi kepingan sehingga mencipta gambar yang utuh. Mbah utinya kemudian membelikan ia oleh-oleh puzzle 24 pieces dari hasil melancongnya ke New York. Puzzle bagusan asli Amerika tentunya, terbuat dari kayu cokelat muda yang ringan dan ramah anak serta lingkungan. Sebenarnya masih bisa awet hingga kini jika saja kala itu rumah kami tidak kebanjiran dan menghanyutkan sebagian besar mainan yang dikumpulkan anak-anak. Saya lupa waktu itu Arya umur berapa. Sepertinya TK saja belum, atau mungkin baru...

The Boy Who Can’t Get Out of My Mind

Jika ada seseorang yang iseng bertanya, siapa kira-kira murid yang tidak akan pernah saya lupakan kelak? Mungkin jawaban saya adalah salah satu anak lelaki di kelas saya tahun lalu. Bukan berarti dia yang teristimewa di hati, karena tak pantas guru memilih-milih di antara murid-muridnya. Namun dia adalah kejutan pertama saya – murid ajaib slash bandel yang pertama kali saya miliki. Bayangkan di tahun pertama saya didaulat sebagai wali kelas, bocah pembuat onar itu harus hadir tepat di dalam kelas saya. Ah, seribu satu rasa! Tahun ini, ia bukan lagi tanggung jawab saya. Saya telah melepasnya untuk dibimbing oleh guru lain pada tingkat kelas yang lebih tinggi. Semoga dia dan guru itu bisa selamat tanpa kekurangan suatu apa pun hingga tahun ajaran ini berakhir. Semoga.  Kini saya punya murid-murid baru. Dan masih sama seperti tahun lalu, lagi-lagi didominasi oleh segerombolan lelaki yang ajaib. Mungkin sudah garis nasib saya seperti ini. Harus selalu berhadapan dengan...