Skip to main content

Sebuah Akhir

Aku sudah tahu jika pada akhirnya, ia yang akan pergi. Bukan aku, tetapi dia.

Setiap orang yang ditakdirkan untuk singgah di dalam hidupku, merasakan kasih sayangku, menikmati kedalaman cintaku, menyesap seluruh jiwaku, memiliki ragaku, pasti akan pergi. Mereka akan berpaling dan meninggalkanku.

Seperti dirinya.

Masih terekam jelas dalam ingatanku. Tubuhnya yang menantang hujan, hanya untuk menemuiku, dan berkata, "kita sudah tidak bisa bersama lagi."

Jika aku boleh memilih kapan matiku, aku memohon kepada Tuhan untuk mengambil nyawaku sekarang. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini. Tubuhku terpaku sesaat.

"Aku mencintaimu," ucapku lirih. Hanya itu yang terlintas dan sanggup kuucapkan.

"Kamu pasti bisa melupakanku. Kita hanya bersama sementara. Begitu banyak perbedaan yang tidak bisa lagi kuhadapi. Kamu telah berubah," katanya memberi alasan.

Aku bingung, karena aku masihlah gadis yang sama yang berjumpa dengannya hampir dua tahun silam. Tak banyak teman, tak memiliki kecantikan sempurna, selalu malu dan menghindar dari sorotan. Aku tidak pernah berubah.

"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon," kataku. Air mata mulai mengalir di pipiku.

Aku meraih lengannya, mencoba bersandar di bahunya, seperti yang biasa kulakukan saat hatiku tidak tenang. Namun kali ini ia menepisku. Mencampakanku.

"Jangan seperti ini. Akan semakin sulit bagiku untuk pergi. Semakin sulit juga bagimu untuk melupakanku," ucapnya.

"Kalau begitu, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," kataku mulai menangis.            
                         
"Aku harus pergi. Kita tidak bisa bersama lagi," ucapnya. Ia menyentuh pipiku dan berbalik menembus hujan.

Ia telah pergi.

Comments

Popular posts from this blog

The Best Glee Mash-Off

Just for fun, In my opinion, the best Glee mash-off by far is Adele's Rumor Has It/Someone Like You by the Troubletones (Santana and Mercedes). What do you think? Love, Miss Tya

Arya dan Puzzle

Puzzle 250 pieces yang berhasil diselesaikan Arya dengan tim penyemangat Wira dan Kinan Ini cerita tentang sulungku dan kecintaannya pada puzzle. Waktu masih balita, seingat saya masih sekitar usia dua tahun, saya dan ayahnya mencoba membelikan puzzle 6 pieces untuk ia selesaikan. Ia pun menyelesaikannya sendiri dengan mudah. Lalu kami mencoba menaikkan tantangan dengan puzzle 12 pieces di tahun berikutnya. Lagi-lagi, tak ada kesulitan sedikitpun baginya dalam menyusun kepingan demi kepingan sehingga mencipta gambar yang utuh. Mbah utinya kemudian membelikan ia oleh-oleh puzzle 24 pieces dari hasil melancongnya ke New York. Puzzle bagusan asli Amerika tentunya, terbuat dari kayu cokelat muda yang ringan dan ramah anak serta lingkungan. Sebenarnya masih bisa awet hingga kini jika saja kala itu rumah kami tidak kebanjiran dan menghanyutkan sebagian besar mainan yang dikumpulkan anak-anak. Saya lupa waktu itu Arya umur berapa. Sepertinya TK saja belum, atau mungkin baru...

The Boy Who Can’t Get Out of My Mind

Jika ada seseorang yang iseng bertanya, siapa kira-kira murid yang tidak akan pernah saya lupakan kelak? Mungkin jawaban saya adalah salah satu anak lelaki di kelas saya tahun lalu. Bukan berarti dia yang teristimewa di hati, karena tak pantas guru memilih-milih di antara murid-muridnya. Namun dia adalah kejutan pertama saya – murid ajaib slash bandel yang pertama kali saya miliki. Bayangkan di tahun pertama saya didaulat sebagai wali kelas, bocah pembuat onar itu harus hadir tepat di dalam kelas saya. Ah, seribu satu rasa! Tahun ini, ia bukan lagi tanggung jawab saya. Saya telah melepasnya untuk dibimbing oleh guru lain pada tingkat kelas yang lebih tinggi. Semoga dia dan guru itu bisa selamat tanpa kekurangan suatu apa pun hingga tahun ajaran ini berakhir. Semoga.  Kini saya punya murid-murid baru. Dan masih sama seperti tahun lalu, lagi-lagi didominasi oleh segerombolan lelaki yang ajaib. Mungkin sudah garis nasib saya seperti ini. Harus selalu berhadapan dengan...