Skip to main content

Dia yang Membisu

Terkadang manusia menjadi bisu. Entah karena ia memilih menjadi bisu, atau ia memang tak mampu berkata. Tanpa daya untuk menguak kebenaran, maupun menuturkan kebohongan. Ia hanya membisu.

Namun manusia tak sadar jika diamnya mampu menyiratkan hal yang setengah mati ditutupinya. Seolah ada tulisan besar-besar di kepalanya tentang apa yang sebenarnya ia inginkan. Terkadang tulisan itu begitu besar, sehingga semua orang yang tak memiliki kaitan dengannya sekali pun, mampu menangkap maksudnya.

Diamnya ternyata menyimpan seribu bahasa. Kebisuannya adalah untuk menutupi semua itu.

Ah, kalau aku tidak akan tega membebani manusia itu. Ia sendiri sudah kesusahan dengan pergumulan batinnya. Mungkin ia setengah mati berusaha mengungkapkan isi hatinya kepada yang disayang, atau ia hanya berusaha terlalu keras menutupi kebusukannya. Yang mana pun, tentulah ia sangat terbebani.

Biar ku bantu, manusia. Aku tak akan banyak berkata, hanya akan memberimu ruang untuk bergerak bebas. Aku tahu apa yang kamu inginkan meski tak mampu kamu ucapkan. Biarlah aku melepas bebanmu. Biarkan aku melepasmu pergi...

Dia yang telah berbahagia dan menemukan ketenangan, tak selayaknya diusik oleh apa yang tak lagi diinginkannya. Sudah lebih dari cukup kamu menegaskan keinginanmu yang sesungguhnya dari kebisuanmu selama ini.

Sekarang aku mengerti...

Comments

Popular posts from this blog

The Best Glee Mash-Off

Just for fun, In my opinion, the best Glee mash-off by far is Adele's Rumor Has It/Someone Like You by the Troubletones (Santana and Mercedes). What do you think? Love, Miss Tya

Arya dan Puzzle

Puzzle 250 pieces yang berhasil diselesaikan Arya dengan tim penyemangat Wira dan Kinan Ini cerita tentang sulungku dan kecintaannya pada puzzle. Waktu masih balita, seingat saya masih sekitar usia dua tahun, saya dan ayahnya mencoba membelikan puzzle 6 pieces untuk ia selesaikan. Ia pun menyelesaikannya sendiri dengan mudah. Lalu kami mencoba menaikkan tantangan dengan puzzle 12 pieces di tahun berikutnya. Lagi-lagi, tak ada kesulitan sedikitpun baginya dalam menyusun kepingan demi kepingan sehingga mencipta gambar yang utuh. Mbah utinya kemudian membelikan ia oleh-oleh puzzle 24 pieces dari hasil melancongnya ke New York. Puzzle bagusan asli Amerika tentunya, terbuat dari kayu cokelat muda yang ringan dan ramah anak serta lingkungan. Sebenarnya masih bisa awet hingga kini jika saja kala itu rumah kami tidak kebanjiran dan menghanyutkan sebagian besar mainan yang dikumpulkan anak-anak. Saya lupa waktu itu Arya umur berapa. Sepertinya TK saja belum, atau mungkin baru...

The Boy Who Can’t Get Out of My Mind

Jika ada seseorang yang iseng bertanya, siapa kira-kira murid yang tidak akan pernah saya lupakan kelak? Mungkin jawaban saya adalah salah satu anak lelaki di kelas saya tahun lalu. Bukan berarti dia yang teristimewa di hati, karena tak pantas guru memilih-milih di antara murid-muridnya. Namun dia adalah kejutan pertama saya – murid ajaib slash bandel yang pertama kali saya miliki. Bayangkan di tahun pertama saya didaulat sebagai wali kelas, bocah pembuat onar itu harus hadir tepat di dalam kelas saya. Ah, seribu satu rasa! Tahun ini, ia bukan lagi tanggung jawab saya. Saya telah melepasnya untuk dibimbing oleh guru lain pada tingkat kelas yang lebih tinggi. Semoga dia dan guru itu bisa selamat tanpa kekurangan suatu apa pun hingga tahun ajaran ini berakhir. Semoga.  Kini saya punya murid-murid baru. Dan masih sama seperti tahun lalu, lagi-lagi didominasi oleh segerombolan lelaki yang ajaib. Mungkin sudah garis nasib saya seperti ini. Harus selalu berhadapan dengan...